Tokoh-Tokoh dari Dukuh Paruk

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VII, November 2011
Tebal: 408 halaman

Mulai hari dengan membaca. Begitu prinsip hidup yang saya yakini. Kadang ketika tak ada lagi buku baru yang bisa dibaca, buku-buku lamayang beberapa di antaranya sudah saya baca berkali-kalisaya baca lagi karena memang menarik dan berbekas di pedalaman rasa.

Salah satu buku yang berkali-kali saya baca adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Novel apik karya Ahmad Tohari ini seperti kekasih yang kerap saya rindui: meminta dibaca berkali-kali, ditelaah lalu diselamisedalam-dalamnyadan, sungguh, rasanya saya tak pernah bosan. Dongeng yang dimulakan dari kematian berantai akibat tempe bongkrek buatan Santayibayah sang ronggeng ternama, Srintilkemudian mengalir dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang mencekam, mengentak, dan memiuh-miuh hati.

Tetapi tulisan ringan ini tak hendak meringkas atau mengisahkan ulang sari cerita yang penuh pukau dan dipuji banyak pengamat. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk membabar kajian etnis, kesejarahan, psikoanalisis, atau formalismelayaknya orang-orang yang mendalami sastra pada awal abad ke-20 menyatakan sastra itu unik dari bentuk dan bukan dari kandungan maknanya.

Tulisan ini saya niatkan sebagai catatan ringan soal bagaimana penulis menciptakan tokoh-tokoh yang sungguh-sungguh bernyawa.

Saya menyukai pendapat Orson Scott Card dalam bukunya, Characters and Viewpoint (Writer’s Digest Book, Ohio, 1999), berkaitan dengan tokoh dan penokohan. Menurut Orson, ada tiga hal yang membuat tokoh dalam sebuah cerita bisa memikat pembaca, yakni kepercayaan, keterlibatan emosional, dan kemudahan dipahami. Setiap membaca novel, hal pertama yang kerap saya lakukan adalah bertanya apakah tokoh maya itu berterima atau tidak oleh benak saya. Lalu, seberapa kuat tokoh rekaan itu membetot emosi saya. Biasanya akan saya akhiri rasa penasaran dengan menakar seberapa mudah tokoh itu saya pahami.

Sikap pembacaan saya itu tentu bukanlah cara terbaik mendedah tokoh dan penokohan, karena setiap orang pasti memiliki sikap sendiri dalam menggauli tokoh-tokoh cerita yang dibacanya, yang mungkin jauh lebih baik dari persikapan saya. Apa pun sikap itu, menyitir Sartre, pilihan itu harus diberi penilaian khas bernama tanggung jawab.Berlatar pilihan sikap dan saran Orson itu, akan saya tuturkan pendapat ihwal tokoh-tokoh ciptaan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk.

Pertama, Rasus. Tidak seperti yatim-piatu lain di Dukuh Paruk yang kematian orangtua mereka begitu benderang, Rasus mendapat kabar serba terbatas tentang nasib Emak yang telah melahirkannya. Dari sinilah Ahmad Tohari membangun tokoh Rasus, bukan dari citraan fisik semata, melainkan dari sisi psikologis yang mencengkam. Lalu, Rasus tumbuh menjadi tokoh yang kelimpungan mencari bentuk fisik ibunyabeberapa kali ia bayangkan seperti Srintil dan kemudian akhirnya ia bantah sendiri. Karakter Rasus pun terbentuk dari keserbaraguan, terlihat pada ritual bukak-klambu, semasa menjenguk Srintil di penjara, percakapan dengan Sakum yang memintanya mengawini Srintil, dan ketika ia pulang ke tanah air-nya mendapati kenyataan Srintil masih menerima tamu.

Kedua, Srintil. Barangkali, inilah tokoh yang banyak menduduki hati tokoh lain dalam cerita atau, barangkali, hati pembaca. Ahmad Tohari membentuk karakter Srintil dengan saksama, penuh perinci, dan menggigit. Selain piawai menggambarkan fisik Srintil lewat narasi-narasi yang mudah dipahami, Ahmad Tohari juga jago menata karakter non-fisik tokoh ronggeng ini, seperti tergambar dalam peristiwa kerasukan Kartareja, depresi menjelang bukak-klambu, hasrat mengasuh Goder (bayi sahabatnya, Tami), gairah alamiah ketika Rasus pulang, kekukuhannya menghadapi godaan Marsusi, jerit ketakberdayaan memenuhi permintaan Sentika untuk menjadigowok, dan memuncak pada hilangnya ingatan Srintil ketika mengetahui muslihat Bajus.

Ketiga, Nyai Kartareja. Tokoh dukun ronggeng yang dicitrakan Ahmad Tohari sebagai majikan terselubung yang banyak memetik keuntungan dari ketenarang Srintil. Setiap membaca halaman yang memuat tokoh ini,benak saya langsung memampang tokoh-tokoh serupa di dunia kekiniantokoh-tokoh yang bermain di belakang layar tapi meraup lebih banyak keuntungandi negeri tercinta ini. Saya menyukai cara Ahmad Tohari mendaras tokoh yang satu ini, terutama ketika terlibat masalah dan dengan penuh tipu-daya berkelit dari masalah itu.

Keempat, Sakarya. Dikisahkan bahwa orang tertua di Dukuh Paruk ini adalah pemangku tradisi turun-temurun yang dipercaya leluhur menjaga dan melestarikan ciri khas Dukuh Paruk. Ketika dibenturkan dengan ideologi revolusi yang kerap dikumandangkan oleh Bakar, Sakarya tetap bersikukuh menjaga kemurnian tradisi peronggengan. Tetapi nasib berkehendak lain ketika peristiwa revolusi itu benar-benar meledak. Sakarya tak bisa mengelak dari tudingan yang tak pernah iadan warga Dukuh Paruk lainnyabayangkan sebelumnya. Lebih mengenaskan lagi tatkala tanah air yang dijaganya sepenuh hati itu habis dilalap api tanpa mengetahui siapa-siapa pelakunya.

Kelima, Sakum. Inilah tokoh yang diciptakan Ahmad Tohari sebagai cermin masyarakat lapis bawah: beranak banyak, tak punya penghasilan tetap, dan hidup serba kekurangan. Dengan gaya narasi yang khas Ahmad Tohari menggambarkan kemiskinan Sakum, seperti warga Dukuh Paruk lainnya, lengkap dengan keistimewaan sebagai penabuh calung yang paling disegani. Gambaran ini laksana telaga jernih yang memantulkan bayangan keminskinan penduduk, terutama pelaku seni, di negeri ini.

Keenam, Marsusi. Ahmad Tohari memotret tingkah orang kaya yang berkuasa lewat tokoh ini. Dikisahkan, Marsusi begitu berambisi memiliki Srintil, namun tak berdaya melawan kekukuhan hati ronggeng pujaan itu. Alhasil, langkah nyeleneh pun ia tempuh dengan memasang perangkap guna-guna untuk mempermalukan Srintil. Tetapi, karakter Marsusi ini juga punya sisi baik, termasuk menyuap penguasa lain agar muslihatnya berjalan lebih mudah.

Ketujuh, Bajus. Duh! Tokoh begajul ini menjadi musuh sempurna bagi pembaca. Di balik santun laku dan budi bahasanya, Bajus menyimpan jebakan yang, kelak, sangat menentukan akhir cerita. Dari sisi penokohan, saya mengagumi kejelian Ahmad Tohari dalam menciptakan tokoh ini: tak terbaca, tak terduga.

Masih banyak lagi tokoh lain yang tak kalah menarik, terutama dalam proses ciptaan, di dalam novel ini. Pertanyaan yang kerap menghantui benak saya: dari mana datangnya tokoh-tokoh ini? Ahmad Tohari telah menyajikan tokoh siapa yang harus ada dan bagaimana cara menciptakan tokoh itu. Lalu, siapa yang mungkin ada dan seberapa besar porsi tokoh yang mungkin ada itu. Selain itu, Ahmad Tohari juga menampilkan teknik menamai tokoh, mengembangkan karakter tokoh agar penokohan itu berhasil. Dan, hierarki antartokoh juga sangat jelas, sehingga terang antara peran tokoh utama dan tokoh pendamping. Dalam hal ini, tokoh-tokoh yang disajikan Ahmad Tohari tidak sekadar pengutuh cerita, tapi sekaligus sebagai tanda dan pertanda.

Maka, layaklah buku ini saya anjurkan untuk dibaca oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang berhasrat menulis novel. Novel ini, sungguh, menyuguhkan bagaimana semestinya kita menciptakan tokoh imajinatif.

Akan tetapi, jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar, buku ini harus rampung dibaca.

Parung, Desember 2011
@1bichara

Be Sociable, Share!
Categories: Resensiku

4 Comments

Leave a Reply